NASKAH JAYAPRANA LOYANSARI

Pada suatu jaman, hiduplah seorang  lelaki   desa yg yatim piatu sejak kecil, lelaki itu bernama I nyoman  jayaprana.Karena dia yatim piatu dia menjadikan abdi di kerajaan kalianget. Dia sangat rajin,ulet,patuh,dan penuh tanggung jawab maka dari itu ia menjadi abdi kesayangan raja kalianget. Para dayangpun juga banyak  yang  mengagumi karena ketampanannya.Sang raja meminta jayaprana untuk memilih salah satu dayang  di kerajaannya.

Raja       : “jayaprana…..”

Jaya       : ampun tuanku,ada apa tuan memanggilku

Raja       :”tidaklah kau berniat untuk memilih salah satu dayang di kerajaan ini? Untuk kau jadikan istri”

Jaya       :”maaf tuanku, bolehkah hamba memilih pendamping atas pilihan hamba sendiri ?”

Raja       : “baiklah segera kau cari wanita untuk untuk mendampingi hidupmu “

Jaya       : “baik tuan terimakasih”

Suatu hari, jayaprana pergi dengan niat mencari wanita untuk ia jadikan pendamping hidupnya. Jayaprana sampai di sebuah pasar dan ia melihat sesosok wanita  yang  sangat cantik dan anggun. Jayaprana melihat dengan seksama wanita itu dan wanita cantik itu merasa bahwa ia di perhatikan seseorang dari tadi, ia menoleh dan tersenyum kepada jayaprana. Setelah jayaprana membalas senyumnya, wanita itu berlari kecil dan jayaparana mengikutinya.

Jaya :” wahai kau wanita cantik “

Loyansari : ”apa kau memanggilku ?”

Jaya : “ siapakah namamu ?”

Loyan : “loyansari, and you ?”

Jaya : “jayaprana, apa yang sedang kau lakukan di pasar ini ?”

Loyan : “hanya sekedar jalan-jalan”

Mereka terlibat dalam pembicaraan ringan namun mereka sudah saling jatuh cinta. Jaya prana kembali ke kerajaan Kalianget dan lapor kepada  raja  dan permaisuri bahwa ia telah menemukan calon istri.

Jaya : “maaf baginda, kedatangan hamba kemari hanya menyampaikan bahwa hamba telah menemukan wanita  yang  akan hamba persunting”

Permaisuri : “apakah kamu sudah siap meminangnya ?”

Raja : “ ya, apakah kau yakin ?”

Jaya : “ya, yang  mulia”

Raja :” baiklah aku akan membuatkan surat untuk kau antar besok kepada orang tuanya, siapa nama gadis itu ?”

Jaya : “loyansari baginda”

Keesokan harinya, jayaprana pergi ke rumah Loyansari untuk mengantar surat  yang  dibuat raja kalianget.

Jaya : ”excuseme”

Ibu loyan : “ya, silahkan duduk”

Jaya : “saya utusan  raja  kalianget hendak mengantarkan surat ini kepada anda”

Saat ibu loyan membaca surat, loyan keluar dengan membawa dan menawarkan minuman kepada jayaprana.

Ibu loyan : “loyan, kemari nak, , apa kau bersedia ?”

Loyan hanya tersenyum namun ibu mengetahui artinya bahwa loyan bersedia dipinang jayaprana.

Ibu loyan : “baiklah kami terima lamaran ini”

Jaya : “terima kasih banyak atas penerimaan ini. Saya akan kembali kemari untuk meminang loyansari”

Jayaprana kembali kekerajaan dan mengabari bahwa lamarannya telah diterima.

Ratu : “segeralah kaupinang dia, lebih cepat lebih baik”

Raja : “bagaimana jika tanggal 25 bulan depan ?”

Jaya : “baik yang mulia”

Sebulan kemudian…..

Perayaan pernikahan jayaprana dan loyan dilaksanakan.Mereka pun meminta doa restu dari orang tua loyan dan raja serta ratu kalianget. Namun saat mereka meminta restu dari raja, raja hanya diam sambil memandang wajah loyansari .

Jaya + loyan: “ kami mohon doa restu yg mulia agar pernikahan kami membawa kebahagiaan bagi semuanya”

Permaisuri:” sudah pasti doa kami mengiringimu”

Ternyata raja mengagumi kecantikan loyansari dan menginginkan menjadi permaisurinya ,hal itu diketahui  sang ratu.

Ratu:” kanda …… apakah kanda mencintai loyansari dan menginginkan menjadi permaisurinya”

Raja:” yaaaa… apakah kau rela dia aku jadikan selir ?”

Ratu:” tentu saja tidak kanda,, lebih baik aku mati saja kanda”

Raja:” jangan dinda, jangan kau tinggalkan aku

Ratu : “maafkan aku kanda (mengambil keris dipinggang raja kemudian ditusukkan keperutnya)

Raja : “oohh,,,,,, dindaaaaa” (penyesalan sesaat)

Setelah kepergian ratu, raja semakin terobsesi kepada loyan bahkan beliau ingin menyingkirkan jayaprana.

Dirumah baru jaya prana dan loyan, …… mereka sedang menikmati kehidupan barunya namun tiba-tiba raja memerintahkan jaya prana untuk menghadap padanya. Setelah menemui raja, jaya prana kembali kerumah.

Jaya : “dinda sayang, kanda harus menjalankan tugas dari baginda raja”

Loyan :”tapi kanda, dinda mempunyai firasat tidak baik”

Jaya : “kanda akan baik-baik saja dinda”

Loyan : “kumohon kanda tetaplah disini, jangan tinggalkan aku”

Jaya : “maafkan kanda, dinda tapi kanda tidak bisa meninggalkan perintah ini”

Jayaprana menjalankan tugas dengan patih sawunggaling dan rencana jahat raja menyingkirkan jaya prana dijalankan patih sawunggaling. Di tengah hutan, patih sawunggaling membunuh jaya prana dan tewas seketika. Saat sampai di kerajaan.

Raja : “loyan, nasib buruk menimpa suamimu. Kapal yang ditumpangi rombongan dirampok dan jaya prana tewas terbunuh”

Loyan : “aku tak bisa mempercayainya”

Raja : “tapi kau harus mempercayainya karena dia benar-benar  telah  mati”

Loyan : “(menangis)”

Raja : “maukah kau menjadikanku penggantinya ? untuk mengisi kekosongan hatimu”

Loyan : “tidak baginda, cinta hamba kepada  jayaprana begitu besar, lebih baik aku menyusul  jayaprana dari pada harus menghianati cintanya (mengambil keris dipinggang raja dan bunuh diri)

Mengetahui bahwa loyan mati karena raja, rakyat kemudian memenjarakan raja.

 

one day in your life

One day in your life
you’ll remember a place
Someone’s touching your face
You’ll come back and you’ll look around you

One day in your life
You’ll remember the love you found here
You’ll remember me somehow
Though you don’t need me now
I will stay in your heart
And when things fall apart
You’ll remember one day…

One day in your life
When you find that you’re always waiting
For the love we used to share
Just call my name
And I’ll be there

(Oh-oh-oh-oh-oh…)

You’ll remember me somehow
Though you don’t need me now
I will stay in your heart
And when things fall apart
You’ll remember one day…

One day in your life
When you find that you’re always longing
for the love we used to share
Just call my name
And I’ll be there

(Ohh…)
MJ LYRICS

JAYAPRANA DAN LAYONSARI

Jayaprana dan LayonsariJayaprana dan Layonsari

Inilah cerita kisah cinta Jayaprana dan Layonsaridari Bali Utara. Makam Jayaprana dan Layonsari hingga kini ada dan dipercaya itu benar-benar makam mereka berdua.

Dua orang suami istri bertempat tinggal di Desa Kalianget mempunyai tiga orang anak, dua orang laki-laki dan seorang perempuan. Oleh karena ada wabah yang menimpa masyarakat desa itu, maka empat orang dari keluarga yang miskin ini meninggal dunia bersamaan. Tinggalah seorang laki-laki yang paling bungsu bernama I Jayaprana.Oleh karena orang yang terakhir ini keadaannya yatim piatu, maka ia puan memberanikan diri mengabdi di istana raja. Di istana, laki-laki itu sangat rajin, rajapun amat kasih sayang kepadanya. Kini I Jayaprana baru berusia duabelas tahun. Ia sangat ganteng paras muka tampan dan senyumnya pun sangat manis menarik.

Beberapa tahun kemudian.

Pada suatu hari raja menitahkan I Jayaprana, supaya memilih seorang dayang-dayang yang ada di dalam istana atau gadis gadis yang ada di luar istana. Mula-mula I Jayaprana menolak titah baginda, dengan alasan bahwa dirinya masih kanak-kanak. Tetapi karena dipaksan oleh raja akhirnya I Jayaprana menurutinya. Ia pun melancong ke pasar yang ada di depan istana hendak melihat-lihat gadis yang lalu lalang pergi ke pasar. Tiba-tiba ia melihat seorang gadis yang sangat cantik jelita. Gadis itu bernama Ni Layonsari, putra Jero Bendesa, berasal dari Banjar Sekar.

Melihat gadis yang elok itu, I Jayaprana sangat terpikat hatinya dan pandangan matanya terus membuntuti lenggang gadis itu ke pasar, sebaliknya Ni Layonsari pun sangat hancur hatinya baru memandang pemuda ganteng yang sedang duduk-duduk di depan istana. Setelah gadis itu menyelinap di balik orang-orang yang ada di dalam pasar, maka I Jayaprana cepat-cepat kembali ke istana hendak melapor kehadapan Sri Baginda Raja. Laporan I Jayaprana diterima oleh baginda dan kemudian raja menulis sepucuk surat.

I Jayaprana dititahkan membawa sepucuk surat ke rumahnya Jero Bendesa. Tiada diceritakan di tengah jalan, maka I Jayaprana tiba di rumahnya Jero Bendesa. Ia menyerahkan surat yang dibawanya itu kepada Jero Bendesa dengan hormatnya. Jero Bendesa menerima terus langsung dibacanya dalam hati. Jero Bendesa sangat setuju apabila putrinya yaitu Ni Layonsari dikimpoikan dengan I Jayaprana. Setelah ia menyampaikan isi hatinya “setuju” kepada I Jayaprana, lalu I Jayaprana memohon diri pulang kembali.

Di istana Raja sedang mengadakan sidang di pendopo. Tiba-tiba datanglah I Jayaprana menghadap pesanan Jero Bendesa kehadapan Sri Baginda Raja. Kemudian Raja mengumumkan pada sidang yang isinya antara lain: Bahwa nanti pada hari Selasa Legi wuku Kuningan, raja akan membuat upacara perkimpoiannya I Jayaprana dengan Ni Layonsari. Dari itu raja memerintahkan kepada segenap perbekel, supaya mulai mendirikan bangunan-bangunan rumah, balai-balai selengkapnya untuk I Jayaprana.

Menjelang hari perkimpoiannya semua bangunan-bangunan sudah selesai dikerjakan dengan secara gotong royong semuanya serba indah. Kini tiba hari upacara perkimpoian I Jayaprana diiringi oleh masyarakat desanya, pergi ke rumahnya Jero Bendesa, hendak memohon Ni Layonsari dengan alat upacara selengkapnya. Sri Baginda Raja sedang duduk di atas singgasana dihadap oleh para pegawai raja dan para perbekel baginda. Kemudian datanglah rombongan I Jayaprana di depan istana. Kedua mempelai itu harus turun dari atas joli, terus langsung menyembah kehadapan Sri Baginda Raja dengan hormatnya melihat wajah Ni Layonsari, raja pun membisu tak dapat bersabda.

Setelah senja kedua mempelai itu lalu memohon diri akan kembal ke rumahnya meninggalkan sidang di paseban. Sepeninggal mereka itu, Sri Baginda lalu bersabda kepada para perbekel semuanya untuk meminta pertimbangan caranya memperdayakan I Jayaprana supaya ia mati. Istrinya yaitu Ni Layonsari supaya masuk ke istana dijadikan permaisuri baginda. Dikatakan apabila Ni Layonsari tidak dapat diperistri maka baginda akan mangkat karena kesedihan.

Mendengar sabda itu salah seorang perbekel lalu tampak ke depan hendak mengetengahkan pertimbangan, yang isinya antara lain: agar Sri Paduka Raja menitahkan I Jayaprana bersama rombongan pergi ke Celuk Terima, untuk menyelidiki perahu yang hancur dan orang-orang Bajo menembak binatang yang ada di kawasan pengulan. Demikian isi pertimbangan salah seorang perbekel yang bernama I Saunggaling, yang telah disepakati oleh Sang Raja. Sekarang tersebutlah I Jayaprana yang sangat brebahagia hidupnya bersama istrinya. Tetapi baru tujuh hari lamanya mereka berbulan madu, datanglah seorang utusan raja ke rumahnya, yang maksudnya memanggil I Jayaprana supaya menghadap ke paseban. I Jayaprana segera pergi ke paseban menghadap Sri P aduka Raja bersama perbekel sekalian. Di paseban mereka dititahkan supaya besok pagi-pagi ke Celuk Terima untuk menyelidiki adanya perahu kandas dan kekacauan-kekacauan lainnya. Setelah senja, sidang pun bubar. I Jayaprana pulang kembali ia disambut oleh istrinya yang sangat dicintainya itu. I Jayaprana menerangkan hasil-hasil rapat di paseban kepada istrinya.

Hari sudah malam Ni Layonsari bermimpi, rumahnya dihanyutkan banjir besar, ia pun bangkit dari tempat tidurnya seraya menerangkan isi impiannya yang sangat mengerikan itu kepada I Jayaprana. Ia meminta agar keberangkatannya besok dibatalkan berdasarkan alamat-alamat impiannya. Tetapi I Jayaprana tidak berani menolak perintah raja. Dikatakan bahwa kematian itu terletak di tangan Tuhan Yang Maha Esa. Pagi-pagi I Jayaprana bersama rombongan berangkat ke Celuk Terima, meninggalkan Ni Layonsari di rumahnya dalam kesedihan. Dalam perjalanan rombongan itu, I Jayaprana sering kali mendapat alamat yang buruk-buruk. Akhirnya mereka tiba di hutan Celuk Terima. I Jayaprana sudah meras dirinya akan dibinasakan kemudian I Saunggaling berkata kepada I Jayaprana sambil menyerahkan sepucuk surat. I Jayaprana menerima surat itu terus langsung dibaca dalam hati isinya:

“Hai engkau Jayaprana

Manusia tiada berguna

Berjalan berjalanlah engkau

Akulah menyuruh membunuh kau

Dosamu sangat besar

Kau melampaui tingkah raja

Istrimu sungguh milik orang besar

Kuambil kujadikan istri raja

Serahkanlah jiwamu sekarang

Jangan engkau melawan

Layonsari jangan kau kenang

Kuperistri hingga akhir jaman.”

Demikianlah isi surat Sri Baginda Raja kepada I Jayaprana. Setelah I Jayaprana membaca surat itu lalu ia pun menangis tersedu-sedu sambil meratap. “Yah, oleh karena sudah dari titah baginda, hamba tiada menolak. Sungguh semula baginda menanam dan memelihara hambat tetapi kini baginda ingin mencabutnya, yah silakan. Hamba rela dibunuh demi kepentingan baginda, meski pun hamba tiada berdosa. Demikian ratapnya I Jayaprana seraya mencucurkan air mata. Selanjutnya I Jayaprana meminta kepada I Saunggaling supaya segera bersiap-siap menikamnya. Setelah I Saunggaling mempermaklumkan kepada I Jayaprana bahwa ia menuruti apa yang dititahkan oleh raja dengan hati yang berat dan sedih ia menancapkan kerisnya pada lambung kirinya I Jayaprana. Darah menyembur harum semerbak baunya bersamaan dengan alamat yang aneh-aneh di angkasa dan di bumi seperti: gempa bumi, angin topan, hujan bunga, teja membangun dan sebagainya.

Setelah mayat I Jayaprana itu dikubur, maka seluruh perbekel kembali pulang dengan perasaan sangat sedih. Di tengah jalan mereka sering mendapat bahaya maut. Diantara perbekel itu banyak yang mati. Ada yang mati karena diterkam harimau, ada juga dipagut ular. Berita tentang terbunuhnya I Jayaprana itu telah didengar oleh istrinya yaitu Ni Layonsari. Dari itu ia segera menghunus keris dan menikan dirinya. Demikianlah isi singkat cerita dua orang muda mudi itu yang baru saja berbulan madu atas cinta murninya akan tetapi mendapat halangan dari seorang raja dan akhirnya bersama-sama meninggal dunia.

Makam Jayaprana dan LayonsariMakam Jayaprana dan Layonsari

SURAT KECIL UNTUK TUHAN

Surat Kecil Untuk Tuhan

Tuhan…
Andai aku bisa kembali
Aku tidak ingin ada tangisan di dunia ini.

Tuhan…
Andai aku bisa kembali
Aku berharap tidak ada lagi hal yang sama terjadi padaku,
terjadi pada orang lain.

Tuhan…
Bolehkah aku menulis surat kecil untuk-Mu

Tuhan…
Bolehkah aku memohon satu hal kecil untuk-Mu

Tuhan…
Biarkanlah aku dapat melihat dengan mataku
Untuk memandang langit dan bulan setiap harinya..

Tuhan…
Izinkanlah rambutku kembali tumbuh, agar aku bisa menjadi wanita seutuhnya.

Tuhan…
Bolehkah aku tersenyum lebih lama lagi
Agar aku bisa memberikan kebahagiaan
kepada ayah dan sahabat-sahabatku

Tuhan…
Berikanlah aku kekuatan untuk menjadi dewasa
Agar aku bisa memberikan arti hidup
kepada siapapun yang mengenalku..

Tuhan ..
Surat kecil-ku ini
adalah surat terakhir dalam hidupku
Andai aku bisa kembali…

Ke dunia yang Kau berikan padaku..

In memorial,

Gita Sesa Wanda Cantika.

19/06/91-25/12/06

SINOPSIS CERITA

Keke, seorang penderita kanker ganas yang menyerang bagian wajah, Rabdomiosarkoma atau kanker jaringan lunak pertama di Indonesia. Keke atau Gita Sesa Wanda Cantika adalah seorang gadis remaja berusia 13 tahun ketika divonis memiliki penyakit kanker mematikan tersebut yang dapat membunuhnya dalam waktu 5 hari. Kanker jaringan lunak itu menggerogoti bagian wajahnya sehingga terlihat buruk menjadi seperti monster. Walau dalam keadaan sulit, Keke terus berjuang untuk tetap hidup dan tetap bersekolah layaknya gadis normal lainnya.

Mendengar vonis tersebut, sang Ayah, Joddy Tri Aprianto tidak menyerah. Ia terus berjuang agar sang putri kesayangannya itu dapat terlepas dari vonis kematiannya. Perjuangan sang ayah dalam menyelamatkan putrinya tersebut begitu mengharukan.

Perjuangan panjang Keke dalam melawan kanker ternyata membuahkan hasil. Kebesaran Tuhan membuatnya dapat bersama dengan keluarga serta sahabat yang ia cintai lebih lama. Keberhasilan Dokter Indonesia dalam menyembuhkan kasus kanker yang baru pertama kali terjadi di Indonesia ini menjadi prestasi yang membanggakan sekaligus membuat semua dokter di dunia bertanya-tanya.

Namun kanker itu kembali setelah sebuah pesta kebahagiaan sesaat. Keke sadar jika nafasnya di dunia ini semakin sempit. Ia tidak marah pada Tuhan, ia justru bersyukur mendapatkan sebuah kesempatan untuk bernafas lebih lama dari vonis 5 hari bertahan hingga 3 tahun lamanya, walau pada akhirnya ia harus menyerah. Dokter pun akhirnya menyerah terhadap kankernya. Di nafasnya terakhir itulah ia menuliskan sebuah surat kecil untuk Tuhan. Surat yang penuh dengan kebesaran hati remaja Indonesia yang berharap tidak ada lagi air mata di dunia ini terjadi padanya, terjadi pada siapapun.

Hingga pada tanggal 25 Desember 2006, Keke menghembuskan nafas terakhirnya pada pukul 11 malam. Tepat setelah ia menjalankan ibadah puasa dan idul fitri terakhir bersama keluarga dan sahabat-sahabatnya. Namun kisahnya menjadi abadi. Ribuan air mata berjatuhan ketika biografi pertamanya ini dikeluarkan secara online. Pesan Keke terhadap dunia berhasil menyadarkan bahwa segala cobaan yang diberikan Tuhan adalah sebuah keharusan yang harus dijalankan dengan rasa syukur dan beriman.

PEMAIN-PEMAINNYA :

Alex Komang Cast_ Pak Jody (Ayah Keke)

 

Dinda Haw Cast_ Gita Sesa Wanda Cantika (Keke)

 

Egi John Cast_ Chika (Kakak Keke)
 Dwi Andika Cast_ Kiki (Kakak Keke)
 Ranty P Cast_ Ibu Nndita (Ibunya Keke)
Esa Sigit Cast Andy (Pacarnya Keke)
Maulidha Tiara Ningsih Cast_ Fachda (Sahabat Keke)
Vinesa Ines Cast Dinda (sahabat Keke)
Ayunda Gayatri Maheswari Cast Maya (Sahabat Keke)
Cut Nadya Cast Ida (Sahabat Keke)
Sasa Nabila Cast Andini (Sahabat Keke)

Indri Giana Cast Shifa (Sahabat Keke)

FOTO-FOTO yang Lain

 Ini Foto Waktu Alm. Keke lagi Dirawat
Kalau ini foto all cast Surat Kecil Untuk Tuhan
Jangan lupa ya nonton Filmnya yang InsyaAllah bakal diputer tanggal 07 Juli 2011

Dear God

Dear God,

I have forgotten you for so long, and tonight, at 1am, suddenly I feel lonely when everything around is absolutely quiet, and I really miss you. I find myself just staring at the Cross on top of my bed as if I am obsessed with you. And you know what, I think I am, I need you now more than ever. You are the meaning of my life.

Oh God, sometimes I need to sob a bit.