Are you proud of being an indonesian ?

BANGGAKAH ANDA DENGAN INDONESIA

Pertanyaan diatas sebetulnya lebih cocok saya tulis dalam bahasa Inggris Are you proud of being an Indonesian ?, karena rasa kebanggaan atau kebalikannya justru paling sering kita rasakan kalau kita sedang berada di luar negeri. Pertanyaan yang paling lumrah dari orang yang sedang bersosialisasi dengan anda adalah Where’re you from? Dan rasa-rasanya pada masa sekarang ini kita cukup malu mau mengatakan ‘saya dari Indonesia’.

Sebetulnya tanpa kita berbohongpun, Indonesia sangat kurang dikenal didalam pergaulan internasional. Yang ’aneh’ justru mereka lebih tahu dan paham dengan Bali, bahkan ada yang mengira Indonesia itu bagian dari Bali. Di waktu saya di Amerika, malahan mereka menyangka bahwa Indonesia itu secara geografis adalah bagian dari Indo China. Dengan ’susah payah’ saya terangkan bahwa wilayah Indonesia itu sama luasnya dengan wilayah Amerika Serikat, cuma bedanya kalau AS adalah wilayah daratan (kontinen), sedangkan Indonesia adalah negara kepulauan (archipelego). Itupun mereka masih terbengong-bengong tidak percaya, seakan-akan yang saya ceritakan adalah negeri antah berantah.

Mengapa kita sekarang tidak bisa berbangga mengatakan bahwa kita orang Indonesia? Karena cukup banyak hal-hal negatif tentang diri kita yang terpapar dalam pergaulan internasional. Ambillah contoh soal fraud dengan menyalah-gunakan kartu kredit di dunia maya. Visa International dan Mastercard memasukkan Indonesia sebagai ’penipu’ (fraudster) nomor dua di dunia, sehingga semua vendor diperingatkan untuk berhati-hati, bahkan ada yang terang-terangan menolak pemesanan barang yang berasal dari orang Indonesia. Malahan ada seorang vendor yang pernah tertipu mengatakan bahwa buat orang Indonesia dan Nigeria ( dua top ranking dalam kasus fraud), perbuatan penipuan di dunia maya ini dianggapnya seperti olahraga atau main bola layaknya.

Kita juga tahu adanya larangan terbang bagi maskapai penerbangan Indonesia oleh negara-negara Masyarakat Eropa sejak Juli 2007 yang cukup mencoreng citra Indonesia di dunia. Belum lagi travel warning yang entah sudah berapa kali disuarakan berbagai negara untuk tujuan ke negara kita yang pada umumnya terkait dengan terorisme. Ditambah lagi peringkat yang dikeluarkan oleh Tranparency International yang masih menempatkan Indonesia pada ranking ke 111 dari 180 negara di dunia dalam soal korupsi. Angka yang diperoleh Indonesia memang sedikit naik dari 2,6 menjadi 2,8 dengan nilai 10 sebagai angka terbersih dari praktek korupsi, namun angka ini tetap memprihatinkan dan memalukan.

Citra yang kita bawa sebagai duta Indonesia di saat berada di luar negeri kadang-kadang tidak kita sadari dan ’kebiasaan lama’ di tanah air terbawa di luar negeri. Contoh kecil pada saat menaiki bis kota, beberapa tempat duduk di dekat pintu masuk memang dikosongkan (reserved) untuk para orang tua (senior citizens) dan penyandang cacad (handicapped persons). Dan masyarakat disana sangat mematuhi ketentuan itu, sekalipun sebetulnya tidak ada sanksi hukum kalau kita melanggarnya. Tapi yang sering saya lihat, orang Indonesia ’memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan” ini dengan duduk di bangku penyandang cacad ini dan ’acuh’ saja sekalipun sudah ditatapi oleh penumpang lain. Demikian pula tempat parkir bagi penyandang cacad (yang memang tidak ada di negara kita) sering ditilep oleh teman-teman Indonesia karena letaknya memang biasanya paling dekat dengan pintu masuk toko atau kantor disana.

Saya teringat cerita seorang pengajar orang Amerika yang bertutur soal pelanggaran lalu lintas yang pernah dia lakukan di suatu waktu dan dia mendapatkan tilang (ticket). Namun karena dia sibuk, dia lalai untuk pergi membayar denda. Beberapa tahun kemudian saat dia tidak sengaja dihentikan oleh polisi lalulintas, ternyata denda yang belum dibayar itu (outstanding fine), masih terlacak oleh si polisi. Dan sesuai dengan prosedur yang berlaku dia harus diborgol untuk dibawa ke kantor polisi. ”Begitu memalukan dan sangat ternista”, ujarnya. Saya hanya membatin, kalau di negara kita, tentunya ceritanya bisa sangat berbeda. Karena disini semuanya ’bisa diatur’ dan ada ’salam tempel’.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s